Offside Otomatis Tanpa VAR: Teknologi Laser-Line Mulai Diuji di Liga Portugal

Kami menyambut uji coba garis laser sebagai solusi praktis untuk mempercepat keputusan dalam sepak. Inovasi ini hadir saat diskusi global soal penentuan posisi pemain terus berkembang.
Kami melihat latar belakangnya dari FIFA yang dulu memperkenalkan sistem semi-otomatis pada Piala Dunia. Kini, opsi yang lebih sederhana di lapangan diuji agar keputusan offside lebih cepat dan konsisten tanpa bergantung pada paket sensor kompleks.
Tujuan kami jelas: mengurangi jeda pertandingan, meredam debat yang mengganggu ritme, dan memberi asisten wasit acuan garis yang praktis. Percobaan di Portugal bisa jadi pelopor yang relevan bagi liga inggris dan pelajaran penting untuk timnas indonesia.
Kami akan membedah cara kerja, langkah implementasi, dan metrik evaluasi di bagian berikut, sehingga pembaca mendapat panduan praktis untuk menilai kelayakan sistem ini.
Gambaran Umum: Mengapa Offside Otomatis Tanpa VAR Jadi Perhatian
Kecepatan dan akurasi dalam menentukan posisi pemain kini menjadi sorotan utama dalam dunia sepak bola. Momen penentuan sering mengubah hasil laga, dan jeda panjang dapat merusak ritme permainan.
Pada Piala Dunia 2022, teknologi semi-otomatis memadukan pelacakan 29 titik tubuh pada 50 Hz dan sensor bola 500 Hz. Sistem itu memberi peringatan kepada ofisial video dan menampilkan animasi 3D sebagai rujukan publik. Ekspektasi publik meningkat setelah standar itu diperlihatkan.
Solusi garis laser muncul sebagai opsi praktis untuk stadion dengan infrastruktur terbatas. Garis proyeksi langsung memberi referensi lapangan yang konsisten, sehingga mengurangi subjektivitas asisten saat membuat keputusan kritis.
| Aspek | SAOT (Piala Dunia) | Laser-line |
|---|---|---|
| Pelacakan pemain | 29 titik, 50 Hz | Referensi garis proyeksi |
| Sensor bola | Chip 500 Hz | Tidak wajib |
| Output ke publik | Animasi 3D di stadion | Garis langsung di lapangan |
| Infrastruktur | Kamera multi-sudut dan pusat ofisial | Proyektor dan kalibrasi lokal |
Kami percaya tujuan utama bukan mengganti semua teknologi, melainkan menambah opsi sesuai konteks dan anggaran. Ofisial membutuhkan pedoman jelas, latihan, dan evaluasi agar proses ini konsisten dan mendukung fair play—termasuk rencana bagi timnas indonesia.
Membedakan Laser-Line dengan Teknologi Offside Semi-Otomatis FIFA
Kita mulai dengan inti tiap pendekatan untuk melihat kapan satu lebih sesuai bagi stadion dan kompetisi.
Inti SAOT: kamera, sensor, dan AI
Kami jelaskan SAOT sebagai sistem terintegrasi. Di Piala Dunia 2022, 12 kamera pelacak dipasang untuk merekam 29 titik tubuh pemain pada 50 kali per detik.
Sensor di dalam bola mengirim data hingga 500 Hz. AI menyatukan sinyal untuk memberi peringatan dini kepada ofisial video dan menghasilkan animasi tiga dimensi.
Inti Laser-Line: proyeksi garis sebagai referensi langsung
Laser-line memproyeksikan garis di permukaan lapangan. Ia tidak butuh jaringan kamera atau pemrosesan AI besar. Fokusnya pada kalibrasi dan visibilitas agar asisten cepat menentukan posisi relatif pemain.
| Aspek | SAOT | Laser-line |
|---|---|---|
| Komponen utama | Kamera, sensor bola, AI | Proyektor, kalibrasi lapangan |
| Kekuatan | Akurasi millimeter di kasus rumit | Kecepatan visual real-time |
| Hambatan | Infrastruktur dan sinkronisasi | Butuh proyeksi stabil dan garis yang terkalibrasi |
Kami menyimpulkan pilihan bergantung pada kesiapan infrastruktur dan tujuan mengurangi waktu jeda dalam pengambilan keputusan terkait teknologi offside.
Offside Otomatis Tanpa VAR: Tujuan, Manfaat, dan Batasannya
Kita menilai tujuan utama sistem proyeksi ini sebagai alat bantu visual yang mempercepat proses pengambilan keputusan di tepi lapangan.
Keputusan lebih cepat dan konsisten di pertandingan
Kita ingin garis proyeksi memberi referensi yang langsung terlihat oleh asisten wasit. Data dari SAOT menunjukkan kombinasi kamera, sensor, dan AI mampu mempercepat proses di momen krusial.
Manfaat praktis meliputi pengurangan jeda, ritme permainan yang lebih lancar, dan standar penilaian yang lebih konsisten sepanjang 90 menit.
- Tujuan: referensi garis yang jelas untuk mempercepat keputusan offside.
- Manfaat: mengurangi interupsi dan meminimalkan protes penonton serta tim.
- Penggunaan: butuh kalibrasi dan latihan agar hasil dapat dipertanggungjawabkan.
Batasan tanpa dukungan video assistant referee
Tanpa sudut pandang alternatif, insiden sangat tipis atau terhalang bisa menuntut verifikasi manual. Karena itu protokol komunikasi antarofisial harus kuat.
Kita sarankan SOP fallback seperti penghentian singkat untuk triangulasi atau crosshair, pelatihan rutin, dan dokumentasi keputusan untuk audit pascapertandingan.
| Aspek | Solusi | Catatan |
|---|---|---|
| Fallback | Triangulasi manual / crosshair | Digunakan saat situasi sangat tipis |
| Pelatihan | Simulasi match-day | Meningkatkan konsistensi interpretasi |
| Dokumentasi | Rekaman keputusan dan log | Untuk audit dan perbaikan prosedur |
Kita simpulkan bahwa teknologi ini menawarkan efisiensi, namun keberhasilan tergantung disiplin operasional dan standar pelatihan wasit.
Cara Kerja SAOT di Piala Dunia 2022 sebagai Pembanding Teknis
Untuk menilai apa yang bisa ditiru oleh proyeksi garis, kita harus memahami alur teknis SAOT di lapangan.
12 kamera pelacak, 29 titik tubuh, 50 kali per detik
Di Piala Dunia, sistem memakai 12 kamera di bawah atap stadion. Kamera ini merekam 29 titik pada setiap tubuh pemain pada 50 kali per detik.
Hasilnya adalah peta posisi yang sangat rinci untuk tiap gerak pemain.
Sensor di dalam bola hingga 500 kali per detik dan deteksi titik sentuh
Sensor di tengah bola mengirim data hingga 500 kali per detik. Ini memungkinkan deteksi waktu tepat saat kontak terjadi.
Waktu ini menjadi referensi utama saat menentukan momen permainan berlangsung.
AI memberi peringatan, validasi ofisial video, animasi 3D di stadion
AI menggabungkan aliran data kamera dan bola untuk mengeluarkan peringatan awal kepada ofisial video.
Ofisial video lalu memvalidasi sebelum memberi tahu wasit dan tim di lapangan. Sistem juga menghasilkan animasi 3D yang ditayangkan untuk publik.
| Komponen | Peran | Catatan |
|---|---|---|
| 12 kamera | Pelacakan 29 titik tubuh | 50 kali per detik |
| Sensor bola | Penanda waktu kontak | 500 kali per detik |
| AI + ofisial video | Peringatan dan validasi | Animasi 3D untuk transparansi |
Klaim FIFA soal akurasi dan konsistensi membuat SAOT menjadi tolok ukur. Kami gunakan pembandingan ini untuk menetapkan ekspektasi realistis terhadap teknologi offside semi-otomatis dan peran video assistant referee sebagai fallback saat diperlukan.
Bagaimana Laser-Line Diterapkan di Stadion
Sebelum turnamen dimulai, kami meninjau tata letak stadion untuk menentukan titik proyeksi yang paling aman dan efektif.
Penempatan proyektor dan kalibrasi garis
Kami melakukan survei untuk memilih lokasi proyektor yang terlindung dari cuaca dan bebas halangan. Titik ini harus memberi proyeksi konsisten pada seluruh area serang di lapangan.
Kalibrasi menyelaraskan garis terhadap marka dan sumbu koordinat lapangan. Proses ini memastikan posisi relatif penyerang dan bek terbaca sesuai hukum permainan.
Sinkronisasi dengan assistant referee
Kami uji visibilitas dari sudut pandang assistant referee. Intensitas dan warna diatur agar kontras baik dalam siang atau malam.
Prosedur sinkronisasi melibatkan kode isyarat sederhana ketika garis diverifikasi. Jika perlu, assistant referee meminta pengecekan manual cepat.
- Koordinasi dengan keamanan dan operator stadion untuk manajemen kabel dan daya.
- Penyesuaian sudut dan filter optik jika rumput basah atau pantulan mengganggu proyeksi.
- Dokumentasi pra-laga berupa foto dan rekaman sebagai bukti kalibrasi.
| Aspek | Langkah | Catatan |
|---|---|---|
| Survei lokasi | Pilih titik terlindung dan bebas halangan | Minimal gangguan operasional |
| Kalibrasi | Sinkronisasi garis dengan marka lapangan | Akurasi posisi pemain |
| Sinkronisasi | Protokol isyarat dengan assistant referee | Respons cepat saat pengecekan |
| Dokumentasi | Foto/rekaman kalibrasi | Audit dan peningkatan |
Kami simpulkan bahwa keberhasilan di stadion bergantung pada penempatan perangkat yang presisi dan alur komunikasi yang mulus antara operator dan ofisial.
Langkah-Langkah Praktis Mengoperasikan Laser-Line di Hari Pertandingan
Persiapan matang pada pagi laga menentukan keberhasilan penggunaan garis proyeksi saat pertandingan. Kita fokus pada prosedur yang sederhana dan dapat diulang agar ofisial dan operator punya rujukan sama.
Pra-pertandingan: uji perangkat, kalibrasi koordinat, uji latensi
- Pemeriksaan daya dan konektivitas proyektor serta cadangan daya.
- Verifikasi kalibrasi koordinat terhadap marka lapangan dan penyimpanan konfigurasi.
- Uji latensi: cek waktu respons saat proyeksi disesuaikan dan catat hasilnya untuk evaluasi proses.
- Simulasi skenario serangan dengan beberapa pemain agar garis terbaca dari sudut asisten wasit dan untuk rencana kontinjensi gangguan visual.
Selama pertandingan: protokol isyarat untuk asisten wasit
Kita tetapkan kode isyarat sederhana antara operator dan ofisial: valid, ulang kalibrasi, atau cek posisi tipis.
Setiap permintaan ofisial dicatat waktu responsnya. Data ini membantu mengukur kecepatan tanggapan dan mengurangi delay operasional di laga berikutnya.
Jika terjadi kegagalan perangkat, prosedur cepat beralih ke mode manual memastikan wasit tetap membuat keputusan konsisten.
Pascapertandingan: audit keputusan dan perawatan perangkat
Audit meliputi peninjauan momen kunci, padukan catatan operator dan laporan ofisial untuk ukur akurasi garis dan dampaknya pada pertandingan.
Perawatan rutin meliputi pembersihan optik, pemeriksaan housing, pembaruan firmware, dan pemulihan konfigurasi kalibrasi dari cadangan.
Kesimpulan: kedisiplinan operasional dan dokumentasi adalah kunci agar teknologi memberi manfaat nyata tanpa menambah kompleksitas bagi wasit.
Kualitas Data dan Penempatan Kamera: Pelajaran dari MLS
Kita tarik pelajaran dari Major League Soccer (MLS) untuk memahami kendala data saat menerapkan teknologi di lapangan.
Dampak ketidakteraturan penempatan kamera terhadap konsistensi
MLS belum mengadopsi teknologi offside semi-otomatis secara luas karena penempatan kamera tidak seragam antar stadion.
Variasi posisi kamera menghasilkan kualitas data yang berbeda. Akibatnya, garis virtual sulit memberikan keputusan konsisten dari satu venue ke venue lain.
Standarisasi stadion sebagai prasyarat skalabilitas
Kita tekankan bahwa adopsi skala liga harus mempertimbangkan desain tata letak perangkat yang seragam. Ketergantungan pada kamera membuat sebuah sistem sensitif pada arsitektur stadion.
Di stadion yang belum siap, teknologi offside dapat diganti sementara oleh solusi proyeksi seperti laser-line, karena proyeksi tidak memerlukan sinkronisasi multi-sudut yang kompleks.
- Audit infrastruktur per stadion: titik pemasangan, jalur daya, dan potensi gangguan visual.
- Panduan standar minimal untuk operasi lintas musim, agar operator dan ofisial memiliki ekspektasi yang sama.
- Program pilot bertahap untuk menilai dampak pada konsistensi sebelum peluncuran penuh.
| Aspek | Penempatan Kamera Seragam | Penempatan Kamera Variabel / Laser-line |
|---|---|---|
| Kualitas data | Tinggi dan konsisten | Berfluktuasi; laser-line stabil tanpa multi-sudut |
| Ketergantungan arsitektur | Rendah jika dirancang seragam | Tinggi untuk kamera; rendah untuk proyeksi |
| Skalabilitas liga | Mudah dengan standar | Butuh audit dan pilot |
Kita simpulkan: pelajaran MLS mengingatkan kita menyeimbangkan ambisi teknologi dengan realitas stadion. Pendekatan bertahap dan audit venue adalah kunci agar implementasi memberi nilai tambah stabil dan menjadi berita positif bagi kompetisi.
Standar Waktu Keputusan: Target Pengurangan Sekitar 31 Detik
Kami menetapkan tolok ukur waktu sebagai dasar untuk mengevaluasi seberapa cepat sistem bantu mempercepat proses pengambilan keputusan di lapangan.
Pada putaran kelima Piala FA, teknologi offside semi-otomatis di Premier League diuji guna memangkas rata-rata waktu pemeriksaan sekitar 31 detik. VAR aktif di semua delapan pertandingan putaran itu dan hasil diumumkan langsung di stadion.
SAOT tersedia di tujuh stadion tuan rumah Premier League, sementara satu laga di stadion non-top flight harus kembali ke metode lama karena keterbatasan infrastruktur.
Pelajaran dari penerapan di liga inggris
Kita gunakan pengurangan ~31 detik sebagai tolok ukur kinerja. Target ini berguna untuk menilai apakah sistem baru memenuhi ekspektasi operasional.
- Infrastruktur stadion menentukan ketersediaan teknologi; variasi venue memengaruhi cakupan implementasi.
- Peran video assistant tetap krusial sebagai validator akhir untuk menjaga akuntabilitas dan keabsahan keputusan.
- Pengumuman hasil di stadion membantu penonton menerima keputusan dan mengurangi kebingungan setelah momen krusial.
Untuk solusi proyeksi garis, sasaran waktu harus realistis. Mungkin tidak selalu menyamai SAOT, tetapi dapat memotong jeda secara signifikan melalui alur operasi yang sederhana.
| Aspek | SAOT (Piala FA) | Laser-line (sasaran) |
|---|---|---|
| Rata-rata pengurangan waktu | ~31 detik | Signifikan, variatif berdasarkan SOP |
| Ketersediaan per stadion | 7 dari 8 tuan rumah | Lebih mudah disebar, tapi tergantung kalibrasi |
| Peran validator | Video assistant sebagai validasi | Operator + ofisial lapangan |
Kita sarankan pengukuran performa per musim untuk memantau stabilitas waktu keputusan. Integrasi data durasi dengan konteks momen—misalnya sentuhan bola dan jumlah pemain terlibat—penting agar evaluasi adil terhadap kompleksitas nyata lapangan.
Komunikasi Keputusan di Stadion: Transparansi untuk Penonton

Transparansi keputusan di stadion meningkatkan kepercayaan penonton. Kita ingin semua pihak cepat memahami hasil dan alasan di baliknya.
Ketika wasit mengonfirmasi keputusan, data teknis dari sistem SAOT diubah menjadi animasi 3D. Visual ini merinci posisi anggota tubuh pada saat bola dimainkan dan diputar di layar besar stadion.
Protokol komunikasi dan visual
Kami sarankan protokol singkat: ofisial menyatakan keputusan akhir dan alasan dengan kalimat sederhana. Pengumuman audio dipadukan dengan tampilan animasi agar pesan jelas bagi penonton langsung maupun penonton live streaming.
- Gunakan bahasa sederhana dan konsisten untuk pengumuman.
- Integrasikan animasi ke paket siaran dan layar stadion agar pengalaman seragam.
- Rilis pasca-laga singkat merangkum momen kunci untuk arsip dan edukasi.
| Aspek | Praktik Ideal | Manfaat |
|---|---|---|
| Pengumuman | Ofisial menyampaikan keputusan singkat | Menurunkan kebingungan penonton |
| Visual | Animasi 3D dan overlay sederhana | Memperjelas momen kontak dan garis |
| Distribusi | Layarnya stadion + paket siaran + link ringkasan | Konsistensi info untuk semua kanal |
Kami percaya praktik transparansi yang dipelopori FIFA dapat diadaptasi untuk sistem proyeksi dengan grafik sederhana. Selain itu, ketersediaan ringkasan momen lewat kanal resmi membantu publik tanpa mempromosikan link live komersial.
Studi Banding Liga Top: Premier League, Serie A, dan LaLiga
Perbandingan praktik di tiga liga besar membantu kita melihat apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki. Kami menilai aspek komunikasi, akurasi, dan faktor pemasok yang memengaruhi kecepatan adopsi teknologi di tiap kompetisi.
Uji SAOT di Piala FA dan kemajuan adopsi
Premier League menguji teknologi offside semi-otomatis pada putaran kelima Piala FA. Keputusan diumumkan di stadion, sehingga penonton memahami hasil lebih cepat.
Serie A sebagai pionir domestik Eropa sejak Januari 2023
Serie A beralih ke sistem serupa sejak Januari 2023 setelah kesalahan video assistant referee yang mengakibatkan gol kemenangan Juventus dianulir keliru. Langkah ini mendorong reformasi prosedur di tingkat domestik.
Kasus kontroversi LaLiga dan pelajaran peningkatan akurasi
LaLiga juga mengadopsi sistem pada awal musim, namun kontroversi—misalnya insiden yang melibatkan gol Robert Lewandowski—menunjukkan perlunya audit berkelanjutan.
| Aspek | Pelajaran | Implikasi |
|---|---|---|
| Komunikasi | Pengumuman publik di stadion | Mengurangi protes dan kebingungan |
| Akurasi | Audit pasca-momen | Perbaikan SOP dan pelatihan |
| Pemasok bola | Chip dan hak paten Adidas | Adopsi bergantung pada pemasok resmi |
Kita simpulkan studi banding ini memberi arahan jelas untuk operator laser-line: siapkan prosedur, paket komunikasi untuk siaran dan live streaming, serta metrik evaluasi agar ekspektasi realistis berdasarkan pengalaman liga top dan turnamen besar seperti piala dunia.
Perangkat Keras dan Lisensi: Sensor Bola, Hak Paten, dan Alternatif
Hak paten pemasok bola sering mempengaruhi kapan dan bagaimana sebuah liga bisa mengadopsi sistem deteksi sentuhan. Di beberapa turnamen besar, sistem yang disempurnakan memakai chip di dalam bola untuk merekam momen sentuh secara presisi.
Dampak paten pemasok terhadap implementasi
Adidas memegang hak paten untuk beberapa solusi chip di bola yang dipakai pada Piala Dunia dan Liga Champions. Hal ini membuat liga yang tidak memakai Adidas perlu negosiasi lisensi atau menunggu pemasok kompatibel.
Alternatif teknis bila tanpa chip resmi
Tanpa sensor resmi, akurasi waktu sentuhan menurun. Metode lain—misalnya analisis kamera tunggal atau pendekatan proyeksi—biasanya kurang presisi dibanding data berbasis perangkat keras.
- Liga yang pakai pemasok berbeda harus menyusun rencana transisi dan uji kompatibilitas.
- Solusi proyeksi seperti laser-line mengurangi ketergantungan integrasi chip dan fokus pada kalibrasi permukaan.
- Studi kasus premier league menunjukkan pentingnya pemetaan vendor dan rencana kontinjensi sebelum peluncuran penuh.
| Aspek | Chip di bola | Alternatif proyeksi |
|---|---|---|
| Lisensi | Memerlukan izin pemasok | Lisensi perangkat lunak/firmware proyektor |
| Ketersediaan | Tergantung pemasok resmi | Lebih mudah disebar ke stadion |
| Akurasi sentuhan | Tinggi | Lebih rendah tanpa sensor bola |
Kita menyimpulkan keputusan hardware harus mempertimbangkan biaya, keberlanjutan operasional, dan kepatuhan terhadap regulasi dan hak kekayaan intelektual. Pilihan yang realistis menggabungkan uji vendor, perjanjian lisensi, serta solusi transisional agar sistem dapat berfungsi konsisten di berbagai stadion.
Rencana Implementasi di Indonesia: Dari Stadion ke Wasit

Kita mulai dengan peta jalan praktis agar instalasi proyektor dan pelatihan ofisial berjalan terukur di Indonesia.
Kami rumuskan tahapan berjenjang: audit stadion dan lapangan prioritas untuk memastikan titik pemasangan proyektor, jalur daya aman, dan izin operasional. Audit ini juga menilai akses teknis untuk timnas indonesia agar uji coba bisa dilaksanakan pada fasilitas nasional.
Kami susun modul pelatihan terpadu untuk wasit dan asisten, meliputi hukum permainan, praktik membaca garis proyeksi, dan simulasi kecepatan pertandingan. Modul ini akan diujikan dalam pilot kompetisi domestik sebelum diperluas ke liga lain.
- Pilot di beberapa pertandingan domestik dengan indikator keberhasilan jelas.
- Integrasi operasional ke kamp latihan timnas indonesia lewat uji coba internal.
- Kemitraan dengan perguruan tinggi dan teknopark untuk dukungan teknis dan pemeliharaan.
- Komunikasi publik proaktif agar suporter dan media memahami tujuan serta batasan sistem.
| Langkah | Fokus | Output |
|---|---|---|
| Audit | Stadion & lapangan | Daftar prioritas lokasi |
| Pelatihan | Wasit & asisten | Modul & simulasi |
| Pilot | Kompetisi domestik | Evaluasi teknis & operasional |
Kami rekomendasikan evaluasi triwulanan bersama federasi, operator, dan panel independen. Pendekatan kolaboratif ini akan membantu timnas indonesia cepat beradaptasi, memberi umpan balik teknis, dan mempercepat kurva pembelajaran. Untuk konteks aturan, kami juga merujuk pada perubahan terbaru dalam law of the sebagai rujukan implementasi.
Metrik Evaluasi Hasil: Akurasi, Kecepatan, dan Penerimaan Publik
Akurasi teknis, waktu respons, dan persepsi publik menjadi tiga pilar penilaian kami.
Akurasi garis dan posisi anggota tubuh
Kita tetapkan metrik deviasi garis terhadap sumbu lapangan dan konsistensi pembacaan posisi anggota tubuh pemain pada momen krusial.
Korelasi antara pengukuran proyeksi dan keputusan akhir akan menjadi tolok ukur akurasi operasional.
Kecepatan proses dan waktu henti pertandingan
Kita ukur waktu dari momen potensi pelanggaran hingga keputusan ofisial, lalu bandingkan dampak pada waktu henti pertandingan dengan standar liga inggris dan premier league.
Kepercayaan penonton dan ofisial terhadap sistem
Kita pakai survei terstruktur untuk menilai kejelasan garis, kepercayaan pada keputusan, dan efeknya pada jumlah gol yang dianulir atau disahkan.
Evaluasi antarmusim, pemantauan lintas stadion, dan laporan berkala akan merangkum data kuantitatif dan studi kasus sebagai dasar kebijakan penggunaan teknologi offside di sepak bola domestik.
| Aspek | Metode | Output |
|---|---|---|
| Akurasi | Deviasi garis & validasi posisi | Persentase kesesuaian |
| Kecepatan | Waktu respons operasional | Rata-rata detik per keputusan |
| Penerimaan | Survei ofisial & penonton | Skor kepercayaan |
Kesimpulan
Kita simpulkan bahwa proyeksi garis memberi jalur praktis untuk mempercepat dan menstandarkan keputusan terkait teknologi offside semi-otomatis. Solusi ini mengurangi ketergantungan pada infrastruktur berat dan relevan untuk liga yang belum siap seperti beberapa stadion di liga inggris.
Pelajaran dari piala dunia dan kompetisi besar menunjukkan pentingnya standar teknis dan komunikasi transparan agar publik percaya. Kesiapan lapangan dan prosedur operasional disiplin sangat krusial, terutama saat momen gol menentukan nasib pertandingan.
Kita akui keterbatasan tanpa dukungan video assistant dan sensor pada bola. Oleh karena itu audit, dokumentasi, serta pelatihan bagi assistant referee wajib dilaksanakan. Federasi dan klub harus susun roadmap realistis, mulai dari stadion prioritas dan melibatkan timnas indonesia.
Akhirnya, kami mengajak klub, operator, dan regulator bekerja sama agar teknologi benar-benar memperindah permainan sepak—dan menjadi kabar baik dalam berita mengenai fair play di lapangan.






